Jumat, 14 Januari 2011

Prinsip-Prinsip Berbicara Efektif

1. 1. Prinsip Motivasi

1.1 Pengertian Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorangsecara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Menurut pendapat lain, motivasi adalah usaha yang menyebabkan seseorang agar tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya.

1.2 Tujuan dan Manfaat Motivasi

Tujuan dan manfaat motivasi dalam berbicara adalah:

a. Mendorong seseorang untuk berbicara;

b. Meningkatkan produktivitas dalam berbicara;

c. Meningkatkan kestabilan dalam berbicara;

d. Meningkatkan kreativitas dalam berbicara;

e. Lebih memiliki keinginan untuk berbicara.

1.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pembicara memiliki wawasan, informasi dan pengalaman yang menarik sebagai motivasi yang ingin disampaikan kepada pendengar. Agar mereka terdorong untuk melakukan hal yang lebih baik. Dalam hal ini pembicara sebagai motivator. Contoh, ada seseorang yang putus asa saat dia mendapatkan kegagalan dalam hidupnya. Peran pembicara sangat penting dalam hal ini, dia harus bias memberikan motivasi-motivasi yang baik agar orang itu mendapatkan semangat hidupnya kembali.

2. 2. Prinsip Pengertian

2.1 Arti dari Pengertian

Pengertian adalah gambaran atau pengetahuan tentang sesuatu di pikiran atau pemahaman tentang bilangan pikiran dan tentang susunan.

Komunikator harus pandai dalam hal:

a. Memberikan contoh-contoh sederhana;

b. Mempergunakan alat-alat peragaan;

c. Memberikan perbandingan;

d. Mengajak melakukan praktek langsung;

e. Mengulang materi paling penting sampai beberapa kali.

2.2 Tujuan dan Manfaat Pengertian

Tujuan dan manfaat pengertian dalam berbicara adalah agar pendengar dapat menduga atau menebak apa yang disampaikan.

2.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pendengar tidak mengetahui apa yang akan disampaikan. Kemudian, untuk mempermudah memahami maksud dari pembicaraan, pembicara harus memberikan contoh sederhana atau alat peraga untuk membentuk suatu pengertian dalam pembicaraan tersebut. Contoh, pendengar belum memahami dengan pernyataan bahwa bumi itu bulat, maka pembicara bias memberikan alat peraga berupa globe untuk menjelaskannya.

3. 3. Prinsip Kegunaan

3.1 Pengertian Kegunaan

Kegunaan adalah manfaat dalam memberikan sesuatu. Dalam hal ini, berkaitan dengan mendapatkan informasi dalam berbicara.

3.2 Tujuan dan Manfaat Kegunaan

Memberikan motivasi dan informasi kepada pendengar.

3.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Dalam hal ini pembicara dapat menjadi apa saja untuk kepentingan pendengar. Karena dalam prinsip kegunaan, pembicara memiliki visi dan misi yang kuat agar dia bermanfaat untuk pendengarnya. Contoh, apabila si pendengar mengalami kesedihan maka pembicara bisa berguna untuk menghiburnya yaitu dengan cara dengan memberikan humor-humor.

4. 4. Prinsip Keinderaan

4.1 Pengertian Keinderaan

Keinderaan dalam berbicara adalah peranan seluruh panca indera dalam melakukan berbicara agar terjadi suasana yang aktif dan kreatif dalam berkomunikasi. Dan pembicara harus pula pandai membaca situasi. Berbicara termasuk dalam caturtunggal. Yang dimaksud dengan caturtunggal adalah semua panca indera yang mempunyai fungsi yang berbeda dan berkolaborasi sehingga menghasilkan empat keterampilan berbahsa yaitu menulis, berbicara, menyimak dan membacayang nantinya akan menjadi satu kesatuan yang disebut keterampilan berbahasa. Sehingga berbicara dengan aspek-aspek keterampilan berbahasa yang lain seperti menyimak, membaca dan menulis sangat berkaitan.

4.2 Tujuan dan Manfaat Keinderaan

Keinderaan sebagai alat peraga bertujuan dan bermanfaat untuk membantu berbicara dalam menjelaskan suatu maksud dari apa yang dibicarakan si pembicara.

4.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pembicara menggunakan alat indera sebagai peraga. Misalnya dengan menggunakan bahasa tubuh dan mimik muka. Contoh, untuk mengekspresikan bilangan satu atau dua, pembicara dapat menggunakan jarinya untuk menyatakan bahwa itu adalah bilangan satu atau dua. Keterampilan berbicara juga dapat dibantu oleh aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Seperti, berbicara dengan menyimak, berbicara dengan menulis, juga berbicara dengan membaca.

1. Hubungan berbicara dengan menyimak

Berbicara dengan menyimak adalah dua hala yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti bercakap-cakap, diskusi, telepon, tanya-jawab, interview dan sebagainya. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi, tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak. Tidak mungkin orang menyimak tanpa ada orang yang berbicara.

2. Hubungan berbicara dengan menulis

Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan ini berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menulis menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.

3. Hubungan berbicara dengan membaca

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca, semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

5. 5. Prinsip Ulangan

5.1 Pengertian Ulangan

Ulangan dalam berbicara adalah menyampaikan pesan secara berulang, dan pesan tersebut adalah pesan yang dianggap paling penting.

5.2 Tujuan dan Manfaat Ulangan

Tujuan dan manfaat ulangan yaitu agar pendengar lebih jelas dalam memahami apa yang yang dibicarakan oleh pembicara.

5.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pembicara harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi karena jika ada salah satu pendengar yang tidak mengerti dengan penjelasannya, pembicara harus mau dan mampu untuk mengulang. Misalnya, ketika pendengar merasa kurang jelas dengan apa yang disampaikan, sehingga pembicara mengulang penjelasannya agar pendengar dapat memahami dengan lebih baik apa yang dibicarakan.

6. 6. Prinsip Perhatian

6.1 Pengertian Perhatian

Perhatian dalam berbicara adalah menarik minat pendengar agar pendengar lebih antusias untuk menyimak apa yang disampaikan pembicara.

Beberapa cara menarik perhatian adalah:

a. Menampilkan hal-hal yang aneh dan jarang terjadi yang dapat mengundang perhatian orang banyak;

b. Gaya bahasa yang dikombinasikan dengan humor yang segar;

c. Perlu mempergunakan alat peragaan untuk mempermudah orang mencerna inti pesan.

6.2 Tujuan dan Manfaat Perhatian

Tujuan dan manfaat perhatian dalam berbicara adalah agar pembicara diperhatikan oleh pendengar dan mendapat respon yang baik oleh pendengar.

6.3 Realisasi dan Pelaksanaan

Dalam keadaan perhatian pendengar yang terpecah belah, pembicara harus aktif melakukan sesuatu agar perhatian pendengar terpusat kepada pembicara. Misalnya dengan memberi humor atau cerita lucu. Pembicara harus memiliki daya tarik mengenai: pakaian, pandangan mata, air muka/wajah, sikap tubuh, suara, juga tulisan.

1. Pakaian

Untuk menarik perhatian pendengar, pembicara harus mengenakan pakaian yang rapi dan juga bersih. Pembicara juga harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Sebab, pakaian dapat memberikan arti dalam setiap pertemuan dan perayaan apapun. Sebagai contoh, dalam acara pertemuan seperti pidato kenegaraan, tidak mungkin seorang pembicara mengenakan baju seperti ketika menjadi seorang pembawa acara di sebuah acara pernikahan. Itu semua harus diperhitungkan sesuai situasi dan kondisi.

2. Pandangan Mata

Untuk menarik perhatian, pembicara juga harus memperhatikan pandangan mata. Pembicara harus memiliki kontak mata dengan pendengar. Itu penting, karena pendengar merasa lebih dihargai apabila pendengar diperhatikan oleh pembicara. Terlebih apabila dalam situasi seperti di dalam kelas, pendengar dalam jumlah yang banyak dan kadang merasa kurang diperhatikan apabila pembicara acuh. Sehingga menimbulkan situasi yang kurang bersahabat antara pembicara dan pendengar. Oleh karena itu, pembicara harus memperhatikan kontak mata dengan pendengar sebagai wujud daya tarik pembicara untuk diperhatikan.

3. Air Muka/Wajah

Sama sepeperti pandangan mata, wajah juga dapat menentukan perhatian pendengar kepada pembicara.Wajah pembicara dapat menentukan arti dari situasi dan kondisi dalam suatu acara. Contoh, Seseorang yang sedang menjadi pembicara dalam situasi berduka tidak mungkin menampakkan air muka atau wajahyang terlihat sedang bahagia.

4. Sikap Tubuh

Sikap tubuh dapat menentukan seseorang merupakan pembicara yang profesional atau tidak. Gerak-gerik tubuh seorang pembicara menjadi suatu perhatian para pendengar. Sikap tubuh juga menjadi penilaian pendengar bahwa pembicara dapat menyampaikan informasi secara bijak atau tidak. Oleh karena itu, pembicara yang baik merupakan pembicara yang fasih akan gerak tubuhnya.

5. Suara

Pembicara yang baik juga memperhatikan suara layaknya seorang penyanyi. Dalam hal ini, suara pembicara harus jelas dan tidak dalam keadaan sakit tenggorokan. Sehingga makna yang disampaikan pembicara dapat lebih dimengerti oleh pendengar.

6. Tulisan

Pembicara juga seharusnya dapat menulis apa yang dipaparkannya layaknya seorang guru.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Oke sangat membantu