Jumat, 14 Oktober 2011

Catatan Akhir

Kini, tak ada lagi nyanyi dari bumi yang sedetik lagi mati

Ketika burung-burung pergi, jalanan sunyi

Kita pun mengatup ngeri

Sembunyi di ketiak sang bunda

Tak ada guna!!!

Ketika air berubah musuh

Panas membuat lusuh

Semua mengutuk momok kanan-kiri tak bersalah

Arus menyisir batu, kau mau berbuat apa?!

Porak poranda sampah jalanan

Bumi Tanya, “aku ini apa?”

Pejamkan mata

Ini catatan akhir kita

Curhat

Membuat puisi ini, ide saya dapat mengalir begitu saja. Entah ide itu dapat darimana. Namun, saya sangat prihatin akan keadaan alam yang begitu drastis berubah karena tingkah manusia-manusia serakah. Oh iya, saya ingat. Ketika saya melihat kebun dekat rumah saya, sangatlah miris manusia menebang pohon-pohon besar di kebun tersebut hanya tanahnya untuk ditempatkan menjadi rumah megah. Ckckckck. Begitu sadis makhluk yang bernama manusia itu ya?

Selasa, 11 Oktober 2011

MODEL-MODEL ANALISIS KATA

Morfologi berdasarkan etimologi adalah morf yang berarti bentuk, dan logi adalah ilmu. Sehingga morfologi jika diartikan secara lengkap adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk kata. Dalam mempelajari morfologi seorang linguis akan mempelajari seluk beluk morfem dan juga kata beserta prosesnya.

Dalam prosesnya, kajian morfologi harus dianalisis berdasarkan makna, proses afiksasi juga perubahan bentuk dari bentuk dasarnya dan proses tersebut harus dianalisis dari model-model dalam morfologi. Terdapat dua macam model untuk menganalisis kata yakni model penataan atau item and arrangement dan model proses atau biasa disebut item and process.

Model penataan atau item and arrangement adalah model dalam morfologi yang menganalisis kata beserta prosesnya seperti proses afiksasi pada kata tersebut. Sebagai contoh, kata ‘pengeliling’ dapat dianalisis dari kata keliling dengan proses afiksasi yang berupa prefiks pe(N)- sehingga menjadi kata pengeliling. Sedangkan untuk kata ‘penyuka’ berasal dari kata suka dengan prefiks pe(N)- sehingga sesuai aturan kata dalam bahasa Indonesia pe(N)- + suka mengalami proses peluluhan menjadi penyuka. Kata ‘penulis’ juga berasal dari kata tulis. Sedangkan untuk kata pembuat prefiksnya berubah dari pe- menjadi pem- yang tak perlu mengubah bentuk kata dasar pembuat yakni buat.

Model proses atau item and process merupakan model dalam morfologi yang menganalisis kata berdasarkan makna kata dan perubahan bentuk kata, makna, dan juga kategori jika diubah imbuhan dari kata dasar dengan imbuhan lain. Sebagai contoh, kata ‘pengeliling’ dan ‘penyuka’ mempunyai makna orang yang ‘mengelilingi’, dan ‘menyukai’ . Jika dianalisis kata mengelilingi dan kata menyukai menjadi me(N)- + ‘keliling’, ‘suka’ + -i. Sedangkan untuk kata ‘penulis’ dan ‘pembuat’ mempunyai makna orang yang ‘menulis’ dan ‘membuat’. Sehingga bila arti kata penulis dan pembuat dipisahkan antara prefiks dengan kata dasarnya menjadi me(N)- + ‘tulis’,’buat’. Dalam hal ini, model proses atau item and process menyatakan sebuah kata berdasarkan proses kata tersebut dan juga makna yang terkandung. Jika imbuhan pe(N)- dengan jenis kata nomina dicoba dengan imbuhan lain seperti imuhan me(N)- akan membentuk kategori verba aktif.

Model-model dalam mempelajari morfologi tak lepas dengan proses morfofonemik, karena proses tersebut merupakan peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis seperti proses afiksasi. Umpamanya dalam proses afiksasi pe- seperti contoh di atas akan terlihat bahwa prefiks pe- itu akan berubah menjadi pem-, peny-, peng-, pen-, penge- atau tetap pe-, menurut aturan-aturan fonologis tertentu. Jika bentuk dasarnya mulai dengan konsonan /p/ seperti pada kata dasar panah akan akan menjadi pemanah; kalau bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /t/ akan mengalami peluluhan seperti pada kata penulis; kalau kata dasar diawali dengan huruf /k/, maka akan mengalami peluluhan seperti pada kata pe+keliling menjadi kata pengeliling; sama halnya dengan kata dasar yang diawali dengan huruf /s/ akan mengalami peluluhan seperti kata suka yang ditambah dengan prefiks pe- menjadi penyuka. Namun, peluluhan ini tidaklah mutlak karena terdapat beberapa kata dalam bahasa Indonesia berprefiks pe- pada kata dasar yang sudah ditentukan untuk mengalami peluluhan menjadi benar-benar luluh, seperti pada kata stabil. Kata tersebut tidak mungkin mengalami peluluhan, karena pada awal kata terdapat dua konsonan yang tidak dapat diluluhkan. Pe + stabil menjadi penstabil. Sedangkan, pada kata dasar yang diawali dengan konsonan /b/, /p/, /c/, /d/, /j/, /sy/, /l/, /m/, /n/, /ng/, /ny/, /r/, /w/, /y/, /g/ dan huruf-huruf vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/.

Contoh yang dikaji di atas adalah berbagai kata dasar dengan prefiks pe(N)- yang pada menurut fungsinya berpadan dengan prefiks me(N)-.