Jumat, 14 Januari 2011

Prinsip-Prinsip Berbicara Efektif

1. 1. Prinsip Motivasi

1.1 Pengertian Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorangsecara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Menurut pendapat lain, motivasi adalah usaha yang menyebabkan seseorang agar tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya.

1.2 Tujuan dan Manfaat Motivasi

Tujuan dan manfaat motivasi dalam berbicara adalah:

a. Mendorong seseorang untuk berbicara;

b. Meningkatkan produktivitas dalam berbicara;

c. Meningkatkan kestabilan dalam berbicara;

d. Meningkatkan kreativitas dalam berbicara;

e. Lebih memiliki keinginan untuk berbicara.

1.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pembicara memiliki wawasan, informasi dan pengalaman yang menarik sebagai motivasi yang ingin disampaikan kepada pendengar. Agar mereka terdorong untuk melakukan hal yang lebih baik. Dalam hal ini pembicara sebagai motivator. Contoh, ada seseorang yang putus asa saat dia mendapatkan kegagalan dalam hidupnya. Peran pembicara sangat penting dalam hal ini, dia harus bias memberikan motivasi-motivasi yang baik agar orang itu mendapatkan semangat hidupnya kembali.

2. 2. Prinsip Pengertian

2.1 Arti dari Pengertian

Pengertian adalah gambaran atau pengetahuan tentang sesuatu di pikiran atau pemahaman tentang bilangan pikiran dan tentang susunan.

Komunikator harus pandai dalam hal:

a. Memberikan contoh-contoh sederhana;

b. Mempergunakan alat-alat peragaan;

c. Memberikan perbandingan;

d. Mengajak melakukan praktek langsung;

e. Mengulang materi paling penting sampai beberapa kali.

2.2 Tujuan dan Manfaat Pengertian

Tujuan dan manfaat pengertian dalam berbicara adalah agar pendengar dapat menduga atau menebak apa yang disampaikan.

2.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pendengar tidak mengetahui apa yang akan disampaikan. Kemudian, untuk mempermudah memahami maksud dari pembicaraan, pembicara harus memberikan contoh sederhana atau alat peraga untuk membentuk suatu pengertian dalam pembicaraan tersebut. Contoh, pendengar belum memahami dengan pernyataan bahwa bumi itu bulat, maka pembicara bias memberikan alat peraga berupa globe untuk menjelaskannya.

3. 3. Prinsip Kegunaan

3.1 Pengertian Kegunaan

Kegunaan adalah manfaat dalam memberikan sesuatu. Dalam hal ini, berkaitan dengan mendapatkan informasi dalam berbicara.

3.2 Tujuan dan Manfaat Kegunaan

Memberikan motivasi dan informasi kepada pendengar.

3.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Dalam hal ini pembicara dapat menjadi apa saja untuk kepentingan pendengar. Karena dalam prinsip kegunaan, pembicara memiliki visi dan misi yang kuat agar dia bermanfaat untuk pendengarnya. Contoh, apabila si pendengar mengalami kesedihan maka pembicara bisa berguna untuk menghiburnya yaitu dengan cara dengan memberikan humor-humor.

4. 4. Prinsip Keinderaan

4.1 Pengertian Keinderaan

Keinderaan dalam berbicara adalah peranan seluruh panca indera dalam melakukan berbicara agar terjadi suasana yang aktif dan kreatif dalam berkomunikasi. Dan pembicara harus pula pandai membaca situasi. Berbicara termasuk dalam caturtunggal. Yang dimaksud dengan caturtunggal adalah semua panca indera yang mempunyai fungsi yang berbeda dan berkolaborasi sehingga menghasilkan empat keterampilan berbahsa yaitu menulis, berbicara, menyimak dan membacayang nantinya akan menjadi satu kesatuan yang disebut keterampilan berbahasa. Sehingga berbicara dengan aspek-aspek keterampilan berbahasa yang lain seperti menyimak, membaca dan menulis sangat berkaitan.

4.2 Tujuan dan Manfaat Keinderaan

Keinderaan sebagai alat peraga bertujuan dan bermanfaat untuk membantu berbicara dalam menjelaskan suatu maksud dari apa yang dibicarakan si pembicara.

4.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pembicara menggunakan alat indera sebagai peraga. Misalnya dengan menggunakan bahasa tubuh dan mimik muka. Contoh, untuk mengekspresikan bilangan satu atau dua, pembicara dapat menggunakan jarinya untuk menyatakan bahwa itu adalah bilangan satu atau dua. Keterampilan berbicara juga dapat dibantu oleh aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Seperti, berbicara dengan menyimak, berbicara dengan menulis, juga berbicara dengan membaca.

1. Hubungan berbicara dengan menyimak

Berbicara dengan menyimak adalah dua hala yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti bercakap-cakap, diskusi, telepon, tanya-jawab, interview dan sebagainya. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi, tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak. Tidak mungkin orang menyimak tanpa ada orang yang berbicara.

2. Hubungan berbicara dengan menulis

Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan ini berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menulis menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.

3. Hubungan berbicara dengan membaca

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca, semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

5. 5. Prinsip Ulangan

5.1 Pengertian Ulangan

Ulangan dalam berbicara adalah menyampaikan pesan secara berulang, dan pesan tersebut adalah pesan yang dianggap paling penting.

5.2 Tujuan dan Manfaat Ulangan

Tujuan dan manfaat ulangan yaitu agar pendengar lebih jelas dalam memahami apa yang yang dibicarakan oleh pembicara.

5.3 Realisasi atau Pelaksanaan

Pembicara harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi karena jika ada salah satu pendengar yang tidak mengerti dengan penjelasannya, pembicara harus mau dan mampu untuk mengulang. Misalnya, ketika pendengar merasa kurang jelas dengan apa yang disampaikan, sehingga pembicara mengulang penjelasannya agar pendengar dapat memahami dengan lebih baik apa yang dibicarakan.

6. 6. Prinsip Perhatian

6.1 Pengertian Perhatian

Perhatian dalam berbicara adalah menarik minat pendengar agar pendengar lebih antusias untuk menyimak apa yang disampaikan pembicara.

Beberapa cara menarik perhatian adalah:

a. Menampilkan hal-hal yang aneh dan jarang terjadi yang dapat mengundang perhatian orang banyak;

b. Gaya bahasa yang dikombinasikan dengan humor yang segar;

c. Perlu mempergunakan alat peragaan untuk mempermudah orang mencerna inti pesan.

6.2 Tujuan dan Manfaat Perhatian

Tujuan dan manfaat perhatian dalam berbicara adalah agar pembicara diperhatikan oleh pendengar dan mendapat respon yang baik oleh pendengar.

6.3 Realisasi dan Pelaksanaan

Dalam keadaan perhatian pendengar yang terpecah belah, pembicara harus aktif melakukan sesuatu agar perhatian pendengar terpusat kepada pembicara. Misalnya dengan memberi humor atau cerita lucu. Pembicara harus memiliki daya tarik mengenai: pakaian, pandangan mata, air muka/wajah, sikap tubuh, suara, juga tulisan.

1. Pakaian

Untuk menarik perhatian pendengar, pembicara harus mengenakan pakaian yang rapi dan juga bersih. Pembicara juga harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Sebab, pakaian dapat memberikan arti dalam setiap pertemuan dan perayaan apapun. Sebagai contoh, dalam acara pertemuan seperti pidato kenegaraan, tidak mungkin seorang pembicara mengenakan baju seperti ketika menjadi seorang pembawa acara di sebuah acara pernikahan. Itu semua harus diperhitungkan sesuai situasi dan kondisi.

2. Pandangan Mata

Untuk menarik perhatian, pembicara juga harus memperhatikan pandangan mata. Pembicara harus memiliki kontak mata dengan pendengar. Itu penting, karena pendengar merasa lebih dihargai apabila pendengar diperhatikan oleh pembicara. Terlebih apabila dalam situasi seperti di dalam kelas, pendengar dalam jumlah yang banyak dan kadang merasa kurang diperhatikan apabila pembicara acuh. Sehingga menimbulkan situasi yang kurang bersahabat antara pembicara dan pendengar. Oleh karena itu, pembicara harus memperhatikan kontak mata dengan pendengar sebagai wujud daya tarik pembicara untuk diperhatikan.

3. Air Muka/Wajah

Sama sepeperti pandangan mata, wajah juga dapat menentukan perhatian pendengar kepada pembicara.Wajah pembicara dapat menentukan arti dari situasi dan kondisi dalam suatu acara. Contoh, Seseorang yang sedang menjadi pembicara dalam situasi berduka tidak mungkin menampakkan air muka atau wajahyang terlihat sedang bahagia.

4. Sikap Tubuh

Sikap tubuh dapat menentukan seseorang merupakan pembicara yang profesional atau tidak. Gerak-gerik tubuh seorang pembicara menjadi suatu perhatian para pendengar. Sikap tubuh juga menjadi penilaian pendengar bahwa pembicara dapat menyampaikan informasi secara bijak atau tidak. Oleh karena itu, pembicara yang baik merupakan pembicara yang fasih akan gerak tubuhnya.

5. Suara

Pembicara yang baik juga memperhatikan suara layaknya seorang penyanyi. Dalam hal ini, suara pembicara harus jelas dan tidak dalam keadaan sakit tenggorokan. Sehingga makna yang disampaikan pembicara dapat lebih dimengerti oleh pendengar.

6. Tulisan

Pembicara juga seharusnya dapat menulis apa yang dipaparkannya layaknya seorang guru.

Rabu, 05 Januari 2011

PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG POKOK PERS TAHUN 1982 DENGAN TAHUN 1999 Tahun 1999 Tahun 1982

Tahun 1999

1. Pada Undang-Undang pers baru ini segala peraturan perizinan, seperti SIUPP dicabut. Departemen penerangan juga dihapus. Undang-Undang pers ini menjamin kemerdekaan pers dengan tidak memberlakukan tindakan-tindakan represif terhadap pers.

2. Pasal 4 ayat 1: “Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.”
Bahwa pers bebas dari tindakan pencegahan pelarangan dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin. Kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang disertai kesadaran akan pentingnya penegakan supremasi hukum yang dilaksanakan oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang dijabarkan dalam kode etik jurnalistik serta sesuai dengan hati nurani insan pers.

3. Pasal 4 ayat 2: ”Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembreidelan atau pelarangan penyiaran.”
Penyensoran, pembreidelan atau pelarangan penyiaran tidak berlaku pada media cetak dan media elektronik. Siaran yang bukan merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan jurnalistik diatur dalam ketentuan Undang-Undang yang berlaku.

4. Pasal 9 ayat 1: “Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers.”
Setiap warga negara Indonesia berhak atas kesempatan yang sama untuk bekerja sesuai Hak Asasi Manusia, termasuk mendirikan perusahaan pers sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pers nasional memiliki fungsi dan peranan yang penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, negara dapat mendirikan perusahaan pers dengan membentuk lembaga atau badan usaha untuk menyelenggarakan usaha pers.

5. Pasal 17 ayat 1: “Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan.”
Pasal 17 ayat 2: “Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: a. memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers; b. menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.”
Setiap warga negara atau masyarakat memiliki peran dalam dunia pers sehingga pers benar-benar menjadi tempat untuk menyampaikan aspirasi masyarakat umum.

Tahun 1982

1. Adanya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) menyebabkan terjadinya bentuk pengontrolan terhadap surat kabar. SIUPP adalah sarana pembinaan dan pengembangan pers menuju kehidupan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab yang dapat menjalankan fungsinya.

2. Pers lebih didominasi oleh kegiatan kepemerintahan, karena masih banyak penekanan-penekanan atau peraturan-peraturan dari pemerintah.

3. Adanya pembreidelan. Breidel adalah pelarangan pembatasan terhadap media massa pers yang biasanya mengacu pada barang cetakan seperti surat kabar dan buku.

4. Setiap warga negara mempunyai hak untuk mendirikan perusahaan pers. Akan tetapi, fungsi dan peranan pers hanya untuk menyukseskan pembangunan nasional. Hal ini bertujuan agar perusahaan membina pertumbuhan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab.

5. Masyarakat bersifat pasif, hanya menerima apa yang disampaikan oleh pers tentang kepemerintahan.

Minggu, 02 Januari 2011

Keterampilan Membaca Buku

2.1 Pengertian Membaca Buku
Membaca adalah kegiatan seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Keraf Groys (1996:42) membaca merupakan suatu proses yang bersifat kompleks meliputi kegiatan yang bersifat fisik dan mental. Kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mengamati seperangkat gambar-gambar bunyi bahasa menurut sistem tulisan tertentu;
b. Menginterpretasi kata-kata sebagai simbol lambang bunyi yang mengacu pada konsep tertentu;
c. Mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linier, logis dan sistematis menurut kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia;
d. Menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki dengan teks bacaan untuk memperoleh pemahaman terhadap isi bacaan;
e. Memahami hubungan antara gambar bunyi dan bunyi, serta hubungan antar kata dan artinya;
f. Membuat simpulan dan nilai bacaan;
g. Meramunya dengan ide-ide dan fakta-fakta baru yang dibaca pada bacaan untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperluas wawasannya tentang sesuatu;
h. Memusatkan perhatian ketika sedang membaca.

Sedangkan menurut Klein, dkk. (dalam Farida Rahim, 2005:3) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup:
Pertama, membaca merupakan suatu proses. Maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
Kedua, membaca adalah strategis. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruksi makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca.
Ketiga, membaca merupakan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca buku adalah kegiatan pembaca untuk memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual mengenai topik yang berhubungan dan telah disusun dalam satu kesatuan secara berlembar-lembar yang disebut buku. Pembaca di sini adalah orang-orang yang memperoleh bagian terbesar pengetahuan atau informasi dan pemahaman mereka tentang dunia ini dari kata-kata yang ditulis. Tentu tidak semuanya, karena ada informasi dan pemahaman yang berasal dari kata-kata lisan dan pengamatan. Namun bagi banyak orang, itu saja tidak cukup. Mereka tahu bahwa membaca juga penting, dan mereka benar-benar membaca.
Namun kini ada sebagian orang percaya bahwa membaca tidak lagi sepenting dahulu. Seseorang bisa mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan dengan menonton film atau mendengarkan radio. Bahkan juga dapat melakukan banyak hal lain sambil membaca, misalnya mengendarai mobil. Namun masih sangat disangsikan apakah alat-alat komunikasi modern ini dapat meningkatkan pemahaman kita tentang dunia tempat tinggal kita ini?
Barangkali sekarang seseorang mengetahui dunia ini lebih baik daripada dahulu, dan ini bagus: pengetahuan perlu untuk pemahaman. Tetapi sebenarnya pengetahuan tidaklah sedemikian perlu seperti yang mungkin diduga orang. Seseorang tidak perlu tahu segalanya tentang sesuatu untuk memahaminya. Kadang-kadang fakta yang terlalu banyak bahkan menghalangi orang untuk memahami sesuatu. Memang cara-cara yang dipakai untuk mengirim dan menerima informasi hampir membuat manusia tidak perlu berpikir lagi. Penonton film, pendengar radio, dan pembaca majalah populer dijejali berbagai fakta dan gambar yang membantunya membentuk pendapatnya sendiri. Namun informasi ini disampaikan kepadanya dengan cara yang sedemikian efektif sehingga masing-masing orang tidak perlu bersusah payah mencarinya. Ia menerima pendapat-pendapat orang lain yang telah dipersiapkan cerrmat untuknya. Jika masalah itu diperbincangkan, ia akan dapat mengingat apa yang telah dilihat atau didengarnya dan mengulangi informasi yang sama itu. Jadi seseorang itu tidak perlu barpikir dan cenderung pasif atau hanya menerima informasi tanpa mau mengolahnya.
Lain halnya dengan membaca buku atau memperoleh pengetahuan melalui buku. Seseorang dapat berpikir secara aktif, dan dapat menganalisa berbagai macam sumber bacaan. Seseorang juga diajak untuk lebih berkonsentrasi dalam menganalisa suatu hal. Oleh karena itu, meski pun zaman sudah berubah karena telah terfasilitasi oleh internet, televisi, radio dan barang elektronik lainnya, buku tidak akan punah termakan zaman karena banyak manfaat dari buku dan dapat mempunyai andil dalam kemajuan zaman.

2.2 Fungsi Membaca Buku

Membaca buku memiliki tiga fungsi. Pertama, memberi informasi, misalnya dengan membaca buku pelajaran. Yang kedua, memberi hiburan, misalnya membaca novel. Yang ketiga, yang paling penting tetapi sekaligus paling sulit, memberi pengertian. Sebuah buku bisa saja memberi pengertian sekaligus menghibur dan memberi informasi.
2.3 Tujuan Membaca Buku
Tujuan orang membaca buku yaitu:
a. Untuk mengerti atau memahami isi atau pesan yang terkandung dalam suatu bacaan seefisien mungkin;
b. Untuk mencari informasi yang:
1) Kognitif dan intelektual, yakni digunakan seorang untuk menambah keilmiahannya sendiri;
2) Referensial dan faktual, yakni digunakan seseorang untuk mengetahui apa yang ada di dunia ini;
3) Aktif dan emosional, yakni yang digunakan seseorang untuk mencari dan menganalisa bahan bacaan.

2.4 Metode Membaca Buku
Agar setiap aktivitas membaca yang dilakukan dapat berjalan efektif dan efisien, kiranya diperlukan metode tertentu. Dalam hal ini, para peneliti telah mengembangkan beberapa teknik untuk dapat diaplikasikan dalam berbagai pendekatan belajar. Diantaranya: SQ3R, SQ4R, POINT, PQRST, dan PANORAMA
1. SQ3R
Bagian-bagian dari metode membaca SQ3R adalah:
a. Survey
Melakukan survey terhadap bacaan yang akan dibaca, akan membantu untuk mendapatkan lebih isi dari bacaan serta memudahkan untuk mendapatkan maksud dan informasi yang akan dibaca. Survey akan menolong seseorang mendapatkan gambaran awal tentang suatu buku yang akan dibaca. Survey dapat dilakukan dengan menelusuri daftar isi, kata pengantar, bab, indeks, gambar, tentang pengarang, dan yang lainnya. Lakukan survey dengan cara cepat, santai namun rekam hal-hal penting secara global seperti, tema , ide pokok, tujuan dari buku ditulis dan lainnya.
b. Question
Ketika melakukan survey, buatlah sebanyak-banyaknya pertanyaan mengenai bacaan yang akan dibaca. Pertanyaan bisa dibuat dengan menanyakan judul bacaan, atau bab daftar isi, sub judul dan pertanyaan lainnya yang lebih berkembang. Pertanyaan bisa memakai kata MENGAPA, SIAPA, APA, DIMANA, BAGAIMANA dan yang lainnya. Sebagai contoh judul buku “Cara Belajar Cepat Abad XXI”. Judul bisa diubah menjadi “Bagaimana Cara Belajar Cepat Abad XXI?” atau “Mengapa Abad XXI Membutuhkan Cara Belajar Cepat Sekarang Ini?”. Usahakan untuk membuat pertanyaan-pertanyaan ini tidak sekedar judul saja, tetapi buatlah juga untuk sub judul. Untuk itu bisa dilakukan ketika mensurvey daftar isi.
c. Read
Mulailah membaca dengan menyimpan banyak pertanyaan yang dibuat sebelumnya. Ini akan membuat seorang pembaca lebih antusias lagi dalam membaca karena banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Pada masing-masing bab, cobalah untuk mencari masing-masing jawaban dari pertanyaan yang telah dibuat dalam pikiran.
Ada beberapa saran ketika seseorang membaca:
a. Usahakan tidak melakukan kegiatan yang tidak efektif ketika membaca seperti, bersuara, menggerakkan kepala, membaca ulang kalimat atau kata-kata yang tidak terlalu penting;
b. Ada yang menyarankan untuk tidak memberi catatan untuk kata atau kalimat yang tidak dipahami. Namun berilah suatu tanda, misalnya kata-kata atau kalimat yang tidak dipahami berilah tanda Tanya (?), untuk ketidaksetujuan pada isi kalimat berilah tanda (X) atau tanda chek (v) untuk hal-hal yang disetujui. Tanda arah untuk paragrap ().
d. Recite
Setiap membaca beberapa judul atau sub judul, usahakan ada jeda atau istirahat sebentar. Hal ini berfungsi untuk memberi kesempatan kepada otak untuk mencerna apa saja yang telah dipahami. Gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat. Adakah pembaca menemukan jawaban atau beberapa petunjuk lain. Pengetahuan baru apa yang didapat setelah proses membaca. Dan ternyata untuk proses ini dibutuhkan waktu yang cukup. Renungkanlah apa-apa yang telah dibaca. Misalnya, perjalanan, waktu hendak tidur, waktu luang, dan lain-lain. Jangan ragu untuk mengaktifkan otak untuk selalu berpikir.
e. Review
Langkah terakhir adalah me-review apa saja yang telah dibaca. Begitu banyaknya informasi yang datang setiap harinya, membuat informasi yang lama akan cenderung mudah dilupakan. Dan informasi yang baru justru akan lebih mudah diingat. Untuk itulah perlu dilakukan review setelah seseorang membaca, terutama bila membaca sebuah buku dengan sarat informasi ilmiah dan membutuhkan pemahaman secara mendalam. Melakukan review bukan berarti harus membaca ulang seluruh isi buku, namun menelusuri kembali secara global judul-judul, sub judul, kata-kata kunci dan hal-hal yang sudah ditandai pada waktu membaca buku. Dengan melakukan review akan sangat menolong seseorang dalam meningkatkan daya ingat serta menemukan hal-hal penting dari bacaan yang telah dibaca. Selain itu, hal ini akan menambah keyakinan seseorang bahwa dengan membaca dapat memberikan manfaat yang sangat besar, salah satunya adalah pengetahuan baru yang disimpan dalam otak.

2. SQ4R
a. Survey (melakukan pemeriksaan secara umum)
b. Question (mengajukan pertanyaan-pertanyaan pokok)
c. Read (melakukan pembacaan buku)
d. Recite (menceritakan pokok-pokok yang dibaca dengan bahasa sendiri)
e. Rite (dari kata write, menulis pokok-pokok penting yang harus diingat)
f. Review (tinjauan ulang buku)

3. POINT
a. Purpose (mencari tahu dahulu apa maksud penulis dengan tulisannya)
b. Overview (melakukan peninjauan tulisan secara umum, dengan jalan membacanya)
c. Interpret (menganalisa dan menafsirkan pesan dalam tulisan)
d. Note (mencatat hal-hal yang penting dalam tulisan)
e. Test (menguji apakah pembaca sudah menguasai isi tulisan dengan menjawab beberapa pertanyaan penting berkaitan dengan isi tulisan).

4. PQRST
a. Preview (melakukan peninjauan)
b. Question (mengajukan pertanyaan)
c. Read (mulai membaca)
d. Summarize (meringkas isi tulisan yang dibaca)
e. Test (diuji)

5. PANORAMA
a. Purpose (mencari tahu apa maksud penulis dengan tulisannya)
b. Adaptibility (mencocoki buku sesuai dengan apa yang ingin dibaca)
c. Need to Question (membuat pertanyaan)
f. Overview (melakukan peninjauan tulisan secara umum, dengan jalan membacanya)
g. Read (mulai membaca)
h. Annotate (berikan keterangan tentang apa yang dibaca)
i. Memorize (simpan dalam otak)
j. Access (uji)

Dari beberapa metode di atas , kesemuanya memiliki kesamaan untuk mengajarkan seseorang dalam menemukan ide-ide pokok dan detail informasi lainnya untuk mendukung ide pokok tersebut. Namun, metode membaca SQ3R adalah metode yang paling sering digunakan, karena garis besarnya terdapat di metode ini.

2.5 Teknik-Teknik dalam Membaca Buku

Menurut Mortimer J. Adler, ada 4 teknik dalam membaca buku, yaitu:

a. Teknik Permulaan
Secara umum diterima bahwa kemampuan membaca seorang anak tumbuh melalui beberapa periode perkembangan membaca. Periode pertama, yang dikenal dengan “kesiapan membaca”, sejak dilahirkan sampai umur kira-kira enam sampai tujuh tahun. Kesiapan membaca mencakup kemampuan fisik untuk melihat dan mendengar, dan kemampuan mental untuk mengingat kata-kata dan huruf-hurufnya, serta menggunakan kalimat-kalimat sederhana.
Dalam periode kedua perkembangan membaca, anak-anak belajar membaca bahan-bahan yang sangat sederhana. Biasanya anak-anak pada periode ini mampu membaca 300 samapai 400 kata pada akhir tahun pertama. Lalu menjelang akhir periode ini, murid-murid diharapkan bisa membaca dan menikmati sendiri buku-buku sederhana tanpa bantuan guru atau orangtua.
Dalam periode ketiga, anak menunjukkan kemajuan yang pesat dalam meningkatkan perbendaharaan kata dan keterampilannya dalam menemukan arti kata-kata sulit menurut pemakaian kata-kata itu dalam bahan bacaannya. Di samping itu, anak-anak pada periode ini belajar membaca untuk tujuan-tujuan yang berbeda, dan tentang subyek-subyek yang berlainan seperti ilmu pengetahuan dan sejarah. Mereka mulai mengetahui bahwa membaca selain dilakukan di sekolah, merupakan sesuatu yang dapat dilakukan sendiri yang bertujuan untuk kesenangan.
Akhirnya dalam periode keempat, murid meningkatkan semua keterampilan yang telah dipelajari. Ia mengembangkan kemampuan untuk menghubung-hubungkan ide-ide dari satu bahan bacaan lain, dan belajar berbagai pendapat tentang subyek yang sama dari penulis-penulis yang berbeda. Mereka dapat membaca sendiri dan siap untuk belajar lebih banyak tentang membaca.

b. Teknik Inspeksional
Membaca tingkat kedua atau membaca inspeksional terdiri atas kegiatan yang berbeda, sekalipun keduanya merupakan bagian dari satu keterampilan saja. Pembaca yang berpengalaman, mempelajari kedua kegiatan tersebut secara bersamaan, namun untuk sementara ini kita akan membahasnya satu demi satu.

Bagian Satu: Membaca Sekilas atau Pramembaca
Membaca sekilas adalah membaca secara sepintas dalam waktu yang terbatas. Pada awalnya seseorang tidak tahu apa yang dibacanya. Tujuan utama dalam tahapan ini adalah untuk mengetahui apakah buku tersebut perlu dibaca lagi lebih teliti atau tidak, tetapi membaca sekilas memberikan banyak informasi lain tentang buku tersebut.
Langkah-langkah teknik inspeksional bagian satu antara lain:
1. Lihatlah halaman-halaman awal buku itu, kalau asa bacalah kata pengantarnya;
2. Pelajari daftar isi buku;
3. Periksa daftar indeks buku;
4. Bacalah pesan dari penerbit;
5. Berdasarkan gambaran umum, dan belum jelas, tentang isi buku yang anda miliki itu, lihatlah bab-bab yang tampaknya paling penting bagi tema buku itu;
6. Akhirnya, baliklah halaman-halaman buku, berhenti berkali-kali, baca beberapa kalimat atau kadang-kadang beberapa halaman satu kali saja, tidak lebih dari itu.

Bagian Dua: Membaca Pertama
Setiap orang tentu pernah mengalami kegagalan setelah mencoba menguasai sebuah buku yang sukar dengan harapan mula-mula meningkatkan pemahaman atas buku itu. Jika ini terjadi, adalah wajar bila seseorang menganggap bahwa usaha membaca buku itu adalah suatu kesalahan, namun ini bukan kesalahan. Kesalahnnya terletak pada harapan yang terlalu besar sejak membaca pertama kali sebuah buku sukar. Jika membacanya dengan cara yang benar, tak ada satu buku pun untuk pembaca umum bisa menjadi penyebab kekecewaan, betapa pun sukarnya.
Membaca yang benar itu, jika sedang membaca buku sukar yang baru pertama kali, bacalah seluruh buku tanpa harus terhenti untuk memikirkan hal-hal yang tidak dipahami. Bacalah bagian-bagian sulit sampai bacaan yang tidak mengerti dapat dimengerti dengan baik.

c. Teknik Analitis
Membaca analitis adalah tingkat membaca yang lebih sukar daripada tingkatan membaca sebelumnya. Pada membaca analitis merupakan cara membaca yang paling baik dan lengkap dalam waktu yang tidak terbatas.

Secara umum periode dan langkah teknik analitis adalah sebagai berikut:
a. Periode Pertama
1) Kelompokkan buku menurut jenis dan bidangnya;
2) Sebutkan dengan ringkas mengenai apa buku tersebut;
3) Buat daftar bagian-bagian utamanya berdasarkan urutan dan hubungannya dan buat garis besar bagian-bagian ini setelah membuat garis besar keseluruhan buku;
4) Sebutkan masalah-masalah yang penulis telah berusaha memecahkannya tetapi belum terpecahkan.
b. Periode Kedua
5) Temukan istilah-istilah penulis dan temukan artinya;
6) Temukan kalimat-kalimat yang penting, dan temukan dalil-dalil proposisi di dalamnya;
7) Temukan letak argumen penulis dengan cara mencari dan menggabungkan kalimat-kalimat yang mengandung dalil;
8) Tentukan masalah mana yang telah dapat dipecahkan penulis dan mana yang belum.
c. Periode Ketiga
9) Memahami buku sebelum menilai atau mengkritiknya;
10) Bila anda tidak setuju dengan penulis, serta alasan-alasannya;
11) Sebutkan alasan-alasan yang memadai untuk setiap penilaian kritis yang diberikan.
d. Periode Keempat
12) Tunjukkan di mana penulis kurang informasi;
13) Tunjukkan di mana penulis salah informasi;
14) Tunjukkan di mana penalaran penulis lemah;
15) Tunjukkan di mana analisa penulis tidak lengkap.

d. Teknik Sintopikal
Membaca sintopikal adalah membaca perbandingan, yaitu membandingkan buku yang satu dengan buku yang lain. Membaca sintopikal adalah membaca yang paling aktif dari semua tingkat membaca.

Ada lima tahap dalam membaca buku teknik sintopikal, yaitu:
1) Temukan bagian-bagian buku-buku yang penting untuk keperluan;
2) Temukan istilah-istilah apa yang akan digunakan;
3) Sediakan proposisi (dalil-dalil) untuk permasalahan anda;
4) Jelaskan masalah-masalahnya.
Dari pakar Hipnoterapi yaitu Tom Martin Charles Ifle dalam bukunya Big Brain Big Money mengatakan teknik membaca yang merupakan teknik self hypnotheraphy adalah sebagai berikut:
1. Setelah memilih buku apa yang akan dibaca, bayangkan garis besar apa yang akan dijelaskan dalam buku tersebut;
2. Jangan lupa siapkan alat tulis. Ini bisa membantu untuk mengingat informasi lebih lama;
3. Tuliskan apa yang pembaca inginkan dari buku itu. Apakah ingin menyelesaikan masalah pembaca. Jika ya, tulislah keinginan untuk membantu memahami pesan dari buku yang dipilih. Misal, “saya ingin meningkatkan kualitas pikiran”. Hal ini akan membantu otak pembaca akan fokus dan mulai merekam pesan dari buku tersebut;
4. Sebelum membaca, coba pejamkan mata. Lalu katakan dalam hati bahwa akan membaca buku tersebut dalam lima menit, dan yakinkan diri bahwa buku tersebut dapat meningkatkan kualitas berpikir. Ini berarti pembaca pembaca disuruh mengajak diri pembaca sendiri untuk mengajak mencapai tujuan yang diinginkan dan sudah ditulis sebelumnya;
5. Dengan otot mata yang rileks, mulailah membaca dan pastikan posisi duduk tegak saat membaca dan berusahalah menikmati kegiatan ini;
6. Setelah lima menit pertama, berhenti membaca. Coba tuliskan garis besar buku itu. Dengan cara ini melatih pembaca untuk berimajinasi secara dramatis;
7. Tinggalkan catatan kecil tersebut dan kembalilah membaca. Di sela membaca, catatlah ide penting yang ditemukan dan beri garis bawah pada setiaap ide yang dianggap penting. Jika tidak ingin buku tersebut kotor maka sering-seringlah mencatat ide penting tersebut. Atau dapat juga halaman buku tersebut diberi tanda khusus;
8. Ketika selesai membaca, tutup buku dan pejamkan mata kemudian tarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Pikiran yang rileks akan memusatkan fokus perhatian pada pengalaman membaca pembaca dan melatih otak merekam informasi dengan bantuan catatan kecil yang pembaca buat sendiri di setiap tahapan membaca.

2.6 Macam-macam Buku Bacaan

Buku terdiri dari buku fiksi dan buku nonfiksi. Buku fiksi adalah buku yang berisi tentang bahan bacaan yang non ilmiah contoh: novel, buku-buku karya sastra. Buku non fiksi adalah buku yang berisi tentang bahan bacaan yang ilmiah, contoh: buku-buku sejarah, filsafat.

2.7 Manfaat Membaca Buku
Menurut Jordan E.Ayan, manfaat membaca buku adalah untuk memicu daya kreatifitas yang akan berdampak pada perkembangan sebagian jenis kecerdasan, diantaranya adalah:
1. Membaca menambah kosakata dan pengetahuan akan tata bahasa dan sintaksis. Yang lebih penting lagi membaca memperkenalkan pada banyak ragam ungkapan kreatif, dan dengan demikian mempertajam kepekaan linguistik dan kemampuan menyatakan perasaan. Dengan membaca buku, kita belajar mengenai metafora, implikasi, persuasi, sifat nada, dan banyak unsur ekspresi lain yang semuanya penting bagi segala jenis seniman, pelaku bisnis, atau penemu bahkan orang-orang kalangan bawah sekalipun;
2. Banyak buku yang mengajak seseorang untuk berintrospeksi dan melontarkan pertanyaan serius mengenai nilai, perasaan, dan hubungan kita dengan orang lain;
3. Membaca memicu imajinasi. Buku yang baik mengajak seseorang untuk membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi, dan karakternya.
Kemudian menurut DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA. manfaat membaca adalah:
1. Membaca dapat menghilangkan kecemasan dan kegundahan;
2. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan;
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan yang tidak ingin bekerja;
4. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kefasihan dalam bertutur kata;
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir;
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dalam pemahaman;
7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain. Seperti mencontoh kecerdasan para sarjana;
8. Dengan sering membaca seseorang dapat mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan.
Selanjutnya manfaat khusus dari rajinnya membaca buku adalah dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tua. Ini menurut riset mutakhir tentang otak. Bahkan, secara tegas peneliti ini menyatakan bahwa membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan saraf-saraf baru di otak.
Membaca buku juga termasuk kegiatan yang sangat praktis dilakukan. Di mana pun dan kapan pun seseorang dapat melakukan kegiatan ini, karena buku memiliki keunikan tersendiri yaitu mudah dibawa pergi kemana pun. Hanya satu kekurangan dari buku yaitu tidak tahan terhadap kurun waktu yang sangat lama, karena terkadang kertas-kertas yang digunakan untuk buku mudah rusak. Tetapi hal ini dapat diatasi apabila dapat merawat buku tersebut dengan baik dan benar.